Baru tadi pagi saya menyadari bahwa ada yang hilang dari berbagai buku dan workshop “self improvement” yang selama ini beredar dan terjadi di tanah air tercinta ini. Jujur saja, saat saya menyadari “kehilangan” itu saya sedang mandi, dan pada saat menyiramkan air ke seluruh tubuh saya berpikir:”Kenapa sudah sedemikian banyak buku, seminar dan workshop untuk pengayaan diri, tapi tetap saja presentase orang yang berhasil “mentrasformasikan” hidupnya, masih terlalu kecil?”. Masih terlalu banyak orang suka sekali mengeluh. Masih banyak sekali yang suka menyalahkan orang lain dan juga lingkungan!. Masih banyak yang menganggap bahwa kehidupan ini keras dan harus main keras. Masih juga banyak orang yang iri pada tetangganya, atasannya, kakaknya, atau bahkan pada orang yang tidak dia kenal sama sekali. Dan…..yang paling saya prihatin adalah semakin banyak orang yang apatis, membiarkan hari lewat demikian saja.
Berbagai buku dan workshop mestinya berisi hal-hal yang “first class”, apalagi dibawakan oleh para guru yang sudah sukses dalam kehidupannya. Tapi kenapa masih banyak orang yang belum mampu melakukan perubahan, dan mulai mengambil kontrol kehidupannya? Jauh dari keluhan, jauh dari sikap menyalahkan orang lain dan keadaan, dan jauh dari kemarahan terutama pada dirinya.
Sejuknya siraman air yang meyelimuti saya tadi pagi ternyata memunculkan sebuah jawaban. Ahaaaa……..ini dia salah satu kuncinya! Jawaban inilah yang saya cari-cari selama ini. Dan ini juga yang mungkin bisa menjawab pertanyaan sebagian dari Anda, kenapa sudah mengikuti berbagi training dan membaca berbagai buku, perubahan dalam hidup itu tidak juga terjadi?.
Anda pengin tahu apa bisikan alam semesta selama saya mandi tadi pagi??? Permen Fox’s !!! Koq permen Fox’s?? Iya betul jawabannya ada di dalam tagline iklan Permen Fox’s “Kilau Ketulusan”. Apa maksudnya?
Selama ini kita menganggap bahwa buku-buku “pengayaan diri” dan berbagai seminar dan workshop itu pasti pas untuk kita, cocok untuk kita dan pasti bisa langsung saya pakai. Pada saat kita sudah mempraktekkan apa yang diajarkan dalam buku, atau workshop itu, dan kita belum berhasil, umumnya ada dua reaksi yang muncul dalam pikiran kita:
Boleh saja kita berkomentar seperti ke dua alasan di atas. Itu hak kita untuk mengambil kesimpulan. Tetapi bagaimana kalau ada jawaban ke tiga? Jawaban ke tiga? Iya betul sebuah jawaban alternatif untuk Anda. Dan jawaban itu adalah………“Sebagian besar buku, seminar dan workshop itu ternyata belum 100% pas untuk Anda, minimal untuk saat ini?”. Artinya, mungkin saja rancangan workshop atau isi buku ternyata dibuat dan dikomunikasikan dengan channel yang tidak klop dan tidak sinkron dengan channel Anda.
Coba silahkan simak materi untuk “pengayaan diri” pada sebagian besar buku, workshop dan seminar yang pernah Anda ikuti! Anda pasti dengan mudah melihat bahwa pondasi utama dan syarat utama sebelum semua teknik “self improvement” diberikan atau dibahas secara mendalam, adalah adanya “kemauan untuk berubah” pada orang yang menjalani! Sekali lagi saya tekankan, dasar utamanya adalah “adanya kemauan untuk berubah”, pada siapapun yang ingin berhasil. Benar?? Hmmmmmm….di sinilah sebenarnya “hot button”nya?
Kenyataan di antara kita, tipe orang yang mempunyai “urge” alias dorongan kuat untuk berubah, untuk melihat hal baru dan berani menanggung resiko akibat perubahan, yang berani “take control” of his/her life, dan yang selalu bisa melihat gambaran besar,ternyata tidak banyak. Kelompok ini, ternyata jumlahnya hanya kurang lebih 10% dalam populasi. Tidak banyak bukan? Siapa mereka ? Mereka adalah orang-orang yang di dalam keseharian sering dikelompokkan sebagai orang dengan kepribadian “koleris” (lebih lanjut baca buku “Born to be Genius”, Adi W Gunawan). Bagi para “koleris” perubahan dan “take control” adalah buzz words mereka, adalah ciri mereka, dan adalah “nyawa” mereka. Mereka akan melakukan apa saja untuk bisa “take control”, baik pada keadaan, orang lain dan terutama pada dirinya. Kalau Anda kebetulan mempunyai ciri-ciri :
Maka kemungkinan besar Anda masuk dalam kelompok ini, dan tidak heran kalau menjadi relatif mudah bagi Anda untuk mempraktekkan berbagai kiat dalam buku-buku “self improvement” yang ada. Anda umumnya mudah sekali keluar sebagai “pemenang” setelah mengikuti seminar ataupun workshop “life skill”. Kenapa ??? karena buku-buku itu dan workshop serta seminar itu, kebanyakan ditulis dan dirancang oleh para “koleris”, dan bukan oleh para “melankolis, sanguinis ataupun phlegmatis”. Para penulis besar itu dan trainer besar itu kebanyakan adalah para survivors, yang sudah berhasil melewati perjuangan berat, dan tantangan menuju kesuksesan mereka saat ini. Mungkin saja mereka mempunyai sifat-sifat melankolis, phlegmatis ataupun sanguinis (lihat kembali buku “Born to Be Genius” untuk penjelasan detail tentang masing-masing kepribadian ini), tetapi tetap saja sikap koleris mereka cukup dominan. Buktinya…?? Sederhana …… buzz word mereka adalah “perubahan”, “take control”, “masa depan”, “kerja keras”, “big picture”, “keluar dari “comfort zone”, “ambil resiko”,”lakukan dengan sungguh-sungguh”, “tantangan”, “kebebasan untuk menentukan prioritas”,”hebat”, “dahsyat”, “percaya diri”, “inovatif” dan lain sebagainya.
Dan karena sifat “koleris”nya itulah, maka tentu saja tulisan mereka, bentuk training mereka, dan materi yang mereka bawakan, secara sadar maupun tidak, lebih berwarna koleris, bernuansa koleris, dan dibawakan dengan cara koleris pula. Sangat masuk akal kalau sajian mereka (buku, training, seminar dan workshop) paling cocok dikonsumsi oleh para koleris pula. As simple as that. Kalau toh pun Anda punya sedikiiiit…saja sifat koleris, minimal kesukaan untuk bersikap “I control my life”, itu sudah cukup untuk Anda bisa memanfaatkan berbagai buku dan seminar itu untuk kesuksesan hidup Anda.
Tetapi….sayangnya di dalam masyarakat jumlah kaum koleris ini hanya sekitar 10% , sisanya adalah para sanguinis, sekitar 25-30% (yang lebih suka kerja yang menyenangkan, hidup santai dan banyak teman), para melankolis, 20-25% (yang lebih suka rutinitas, dan lebih suka semuanya jelas di depan dan sering pendendam), ataupun para phlegmatis, 30-35% (yang lebih suka hal yang pasti, tidak ada konflik, dan tidak suka perubahan). Bukan berarti bahwa para koleris itu selalu hebat, selalu berhasil dalam hidup dan super segalanya, tetapi hanya kebetulan saja, yang menulis dan menyiapkan materi (buku, seminar, ataupun workshop) adalah para koleris, maka tentu saja para peminat kolerislah yang mendapatkan keuntungan lebih.
Karena kebetulan kata, “perubahan”, “take control”, “berani ambil resiko”, bukanlah istilah yang nyaman bagi sebagian dari kita (yang kebetulan lebih menonjol sifat sanguinis, melankolis atau phlegmatisnya) . Mengikuti berbagai tarining, seminar dan baca buku, hanya dengan modal dengkul (alias apa adanya) akan sangat sulit. Bagi kita, untuk mengadopsi langsung materi dan teknik-teknik canggih dari para penulis dan trainer itu, harus dibutuhkan persiapan pendahuluan. Kita membutuhkan lebih dari sekedar membaca, ataupun membeli tiket dan duduk mengikuti seminar atau workshop itu.
Kita membutuhkan persiapan, dan ini sebetulnya jawaban yang saya dapatkan tadi pagi di kamar mandi:
“Kita tidak bisa langsung menjadi murid para guru besar itu.
Kita harus melihat diri kita, mengerjakan PR kita dulu dan menyesuaikan diri”.
Kembali ke permen Fox’s. Coba beli satu kaleng permen Fox’s dan buka. Anda pasti akan menemukan berbagai warna permen dengan kemilau yang indah menawan. Bukan hanya satu warna, tetapi sangat banyak warna, dan masing-masing menyinarkan kemilau warna dan kejernihan sendiri-sendiri. Begitulah dengan kita. Masing-masing kita layaknya seperti permen Fox’s, masing-masing kita mempunyai sifat dan kemilau yang berbeda-beda. Ada yang berkilau dengan sifat kolerisnya, ada yang sanguinis, ada yang melankolis dan ada pula yang phlegmatis. Masing-masing punya keindahan dan mungkin kelemahan sendiri-sendiri. Pada saat kita ingin belajar untuk melakukan perubahan diri, ingin maju, ingin lebih besar, lebih kaya, lebih pandai, lebih berkembang, maka kita harus memulainya dari “kemilau” kita sendiri dahulu. Karena “siapapun Anda, Anda bisa menjadi besar”, dan berhasil. Danamon tahu itu, dan Andapun tahu itu.
Kalau Anda kebetulan seorang yang koleris, mungkin Anda hanya perlu sedikit berusaha dan josssssss…..Anda berhasil! Tetapi kalau Anda kebetulan mempunyai sifat sanguinis yang lebih suka berpikir untuk masa kini (susah untuk berpikir 1 tahun ke depan), dan yang penting bisa mengerjakan dengan mudah, Anda mungkin perlu berlatih untuk sedikit menjadi seorang koleris, yang berpikir besar dan panjang. Begitu juga untuk Anda yang melankolis dan lebih menyukai mengumpulkan semua alasan (sedetail mungkin) dahulu sebelum bergerak, dan mudah sakit hati dan mendendam, perlu juga untuk mulai sedikit berani mengambil resiko ke luar dari lingkup serba kepastian dan “mencoba hal baru”. Dan yang seru, untuk Anda yang “phlegmatis” dan tidak suka konflik, dan tidak suka perubahan, dan lebih aman mengikut saja, hmmmmm……Anda perlu bisa menerima lebih dahulu bahwa Anda akan mungkin (dan tidak harus) lebih lama untuk melakukan perubahan (karena di hati kecil Anda sendiri, Anda tidak nyaman dengan perubahan), setelah itu lakukan upaya perubahan secara perlahan-lahan, misalnya ganti warna rambut Anda, atau kalau mau agak seru, “putuskan untuk menjadi vegetarian” (keputusan menjadi vegetarian adalah salah satu cara ampuh untuk berani take control of your life, dan berubah). Siapapun Anda, Anda bisa berhasil, selama Anda mau!.
“Ok…ok aku mau mencoba untuk berubah, dan aku bukan tipe “koleris” bagaimana donk caranya?” Ada, dan itu dimulai dengan menerima kenyataan bahwa kita adalah seperti permen “Fox’s” mempunyai kilau yang berbeda-beda, dan tidak ada yang salah dengan itu. Tidak berarti bahwa hanya orang koleris saja yang akan sukses, ataupun orang sanguinis, melankolis dan phlegmatis pasti tidak berhasil. Anda bisa melihat banyak sekali orang sanguinis yang sukses. Anda bisa melihat mereka ini adalah orang yang suka menjadi perhatian orang banyak, sering berpakaian yang menarik perhatian, selalu ingin menjadi bintang. Profesi mereka bisa apa saja, mungkin pembicara publik, penyanyi, bintang film, ataupun profesi lain yang umumnya menyebabkan mereka menjadi pusat perhatian. Dan mereka sukses.
Anda juga bisa melihat banyak para melankolis yang sukses. Umumnya mereka berprofesi agak di belakang layar, pemikir, mungkin peneliti, mungkin pengelola keuangan, mungkin trader valas. Dan mereka sukses. Demikian juga dengan para phlegmatis yang sukses. Mereka bisa berada pada posisi pegawai yang tekun, perajin, bisnis retail atau bahkan entrepeneur. Dan mereka pula sukses.
Intinya setiap kepribadian, baik itu koleris, sanguinis, melankolis ataupun phlegmatis, mempunyai sifat plus dan minusnya. Hanya kebetulan saja, kebanyakan para penulis buku dan trainer tentang “self improvement” (apalagi untuk bidang yang berkaitan dengan sukses keuangan), kebanyakan berasal dari kaum koleris, kaum yang menyukai perubahan, kerja keras, dan “take control”. Jadi kalau Anda benar-benar mau menerapkan ilmu mereka, dan berkehendak untuk berubah, maka setelah mengerti filososfi permen “Fox’s” yang warna-warni, langkah berikutnya adalah mengikuti saran Fox’s “ “Kilau-kan Ketulusan-mu”. Artinya, dengan segala ketulusan hati dan kemauan beranilah untuk belajar sedikit menjadi koleris. Tidak harus semua orang jadi koleris, tapi minimal ambil hal-hal yang positif dari seorang koleris. Ambil kemampuan untuk melihat “big picture”, “mau melakukan perubahan” dan berani “mengambil kontrol” bagi hidup Anda. Apakah Anda harus menjadi seorang koleris tulen yang 100% koleris supaya sukses? Well …itu pilihan Anda, tapi kalau saya akan menjawab..”no thank you”, karena memang cukup banyak juga sikap koleris yang tidak terlalu bagus untuk “pengembangan diri”.
Bagaimana caranya untuk belajar beberapa sikap koleris? Wah ……bisa macam-macam, bisa dimulai dengan mengamati para koleris, dan mencoba menirukannya. Bisa juga dengan memaksa diri (meski harus perlahan-lahan dan “take it easy”) untuk melakukan hal-hal tertentu selaras dengan “jalan seorang koleris”. Misalnya, putuskan apa saja yang Anda ingin lakukan dan capai hari ini, dan stick to it. Pertahankan dan jaga kualitas pekerjaan Anda at whatever cost. Kalau ada yang menghalangi dan menghambat, keraskan hati untuk tetap mencapai apa yang kita canangkan tadi pagi. Bisa juga dengan mulai “berani” mengambil resiko atas setiap tindakan yang kita lakukan, apapun itu resiko dari hasil initiatif ataupun pekerjaan kita (dan cegah mulut dan telunjuk untuk melakukan gerakan menyalahkan orang orang lain). Atau…..hmmmm ini saran rahasia saya………………..
Ambil kamera ataupun HP yang berkamera, dan mulailah menjadi seorang fotografer, dan “take that first shoot”.
Mulailah memotret…apa saja! Seperti “kata” Sony dalam sebuah iklan handycam-nya “The Style In You”. Sebagai seorang “fotografer” atau pehobi memotret, Anda bisa mulai berlatih untuk memunculkan sifat koleris dengan mengekspresikan “style Anda” dalam foto-foto karya Anda. Menjadi seorang fotografer, melatih Anda untuk “berani” mengambil kontrol, “aku mau mengambil gambar ini dari sudut sebelah sini”. “Aku harus memotret blue moment ini pas jam 18.00”, atau “ok ini harus di zoom”.
Mulailah dengan memotret tanaman dan hewan, dan setelah Anda merasa asyik dengan proses
memotret, dan mulai puas dengan hasil fotografi Anda, pindahlah dengan memotret manusia. Mulai dengan orang-orang terdekat Anda dan kemudian berkembang ke orang yang lain termasuk mungkin seorang obyek yang mungkin Anda tidak kenal sama sekali.
Apa keuntungannya dengan memulai hobi fotografi?

Jika Anda sudah mulai ada keinginan untuk bisa lebih berhasil dan lebih besar, dan lebih percaya diri, mulailah sebagai membeli sekaleng permen Fox’s dan potret gambar pertama Anda. Nikmati hasil potret Anda dan nikmati “pengayaan” kepribadian Anda. Dalam waktu tidak terlalu lama, Anda akan merasa mendapatkan pengayaan baru dan siap untuk belajar dari para mahaguru kehidupan itu.
Munculkan “Kilau Ketulusan”mu. Tulus untuk berkembang dan berhasil.
Good luck, I Love You All.