Sep
05
2010
Banner
My LifeQuest: Sungai, Papan Catur atau Sawah?..........and Yours ?
on 15-07-2009 11:35

Views : 1014


Bertanya adalah salah satu hobi saya yang paling sering saya exercise, dan mungkin paling sering membuat isteri saya “capai” (he…he….he….karena dia sering harus berhenti dari keasyikannya memasak sejenak dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya). Selalu saja ada pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya, apalagi kalau saya menjumpai hal-hal yang menarik atau baru. Duluuuu……uu sekali, sewaktu saya masih berumur 4 tahun, Bapak saya pernah kerepotan menjawab pertanyaan saya(waktu itu kami baru ke dokter karena saya sakit), dan pertanyaan saya adalah:”Kenapa Om Dokter batuk-batuk terus, kan dia dokter harusnya sehat terus, kenapa dia batuk-batuk terus gitu?”. Nah begitulah, maka tidak heran sampai sekarang hobi saya ini terus berlanjut, dan bahkan menular ke anak-anak saya. Mereka sangat hobby untuk bertanya, dan apa saja bisa jadi topik pertanyaan (he…he…berhasil nih sang Bapak , GR dikitt…)

Sewaktu masih kelas 1 atau 2 SD, anak ke dua saya Agi pernah tanya:”Bapak Tuhan itu hebat ya, bisa menciptakan apa saja?” dan saya jawab:”Iya Nak, Tuhanlah yang menciptakan semua yang ada di sekitar kita ini!”. Agi meneruskan bertanya:”Kalau dia hebat, kenapa Tuhan nggak mau Agi lihat? Agi pengin ngobrol sama Tuhan!, Agi pengin denger suara Tuhan !” Nah…kedodoran juga saya menjawabnya he…he…he. Beberapa hari yang lalu Nesna anak ke tiga saya bertanya:”Bapak, sapi, kambing itu hewan bertulang belakang ya?”. Saya jawab:”Iya mas”. Saya pikir selesai sampai di situ, dan saya siap mau menerangkan lebih lanjut tentang “arti bertulang belakang ini”. Eh belum sempat membuka mulut, Nesna tanya lagi:”Jadi hewan apa donk yang bertulang depan?” Haaaa……kelabakan juga saya mau menjawabnya. Saya jawab:”Mas nggak ada tuh hewan yang bertulang depan, adanya hewan bertulang belakang dan tidak bertulang belakang, misalnya semut, laba-laba dan udang!”. Dan he…he…ternyata Nesna tidak puas, dan berucap:”Lho kalau ada hewan bertulang belakang harusnya ada hewan bertulang depan, belakang itu lawannya depan”. Bener juga si Nesna, belakang lawannya depan, masa sih belakang lawannya tidak belakang ? Jadi tersenyum kecut juga saya, he…he…yang ngakunya doktor biologi lulusan luar negeri, selama ini tidak pernah memikirkan adanya keanehan istilah ini…wah…wah….hari ini aku belajar dari anakku yang baru berumur 7 tahun” Yeee….aku berhasil membuat anakku kritis berpikir.Trims Tuhan.

Mungkin kadang bertanya itu menyebalkan, mungkin membuat orang risi, bahkan mungkin membuat orang lain beranggapan:”uuuhhh resek amat sih kamu”. Tetapi teman, Anda boleh buktikan sebenarnya bertanya adalah salah satu kunci membangun kebahagiaan. Semua hal yang ada di sekitar kita ini, TV itu, cangkir itu, sapu itu, speaker itu, Ipod itu, IPhone itu, sepatu itu, jam dinding itu, bahkan sprei itu, semuanya adalah hasil dari sebuah pertanyaan awal. Yes….pertanyaan pertama yang diajukan oleh seseorang telah menghasilkan dompet yang cantik itu, roll rambut itu, buku Emotional Freedom itu, saus tomat botol itu. Semua hal kawan, semua hal berasal dari pertanyaan. Semua hal yang Anda bisa lihat, rasakan dan dengar adalah hasil dari sebuah pertanyaan. Dan karena adanya pertanyaan, hidup menjadi lebih bermakna, menyenangkan serta mudah.

Hal lain yang didapat? (he…he…ini juga pertanyaan)…dengan bertanya, kita merasa “mempunyai hak” untuk mendapat jawaban. Kita merasa berharga, dan kita merasa akan ada sesuatu yang baru yang akan lebih memberikan nilai dalam kehidupan kita. Pertanyaan melatih kita untuk membentuk diri yang lebih kreatif, confident, lebih yakin dan berharga. Anyway, sudah berapa pertanyaan yang Anda ajukan seharian ini?  Saya pernah membaca salah satu bukunya bung Tony Buzan atau mungkin karangan penulis lain (sorry saya agak lupa). Dalam buku itu disebutkan “seorang anak yang berusia balita, menanyakan lebih dari 140 pertanyaan dalam sehari, tetapi sebagian besar orang dewasa umumnya hanya bertanya sebanyak empat sampai lima pertanyaan dalam seharinya”. Apa artinya ini? Macam-macam, tetapi salah satu artinya adalah “sebagian orang dewasa sudah sangat kehilangan ketertarikan pada sekelilingnya, dan cenderung menjadi membosankan dan tidak kreatif”. Tidak kreatif????? Ya betul…coba tanyakan pada seorang dewasa:”Apa kegunaan dari sebatang pensil?”..He…he…he..umumnya mereka akan berkutat pada penggunaan yang “normal-normal” saja misalnya menulis, menggambar, menghias alis, melukis dsb…dsb..dsb…Coba tantang mereka lebih lanjut dengan mengatakan:”Bisakah Anda sebutkan tigapuluh kegunaan pensil, dan itu bukan untuk menulis dan menggambar?” Pengalaman saya menunjukkan, mereka akan terbelalak dulu, terus mulai menggerutu dan akhirnya berkutat dengan sekitar 15-17 jawaban. See…kita orang dewasa terbukti nggak kreatif he…he…he…(well tidak semuanya pasti,…yang tidak kreatif ini adalah kita-kita yang sedikit malas untuk bertanya…coba deh mulai bertanya, pasti Anda akan merasa lebih asyik dalam hidup ini).

Nah, jadi dimana ketemunya “SUNGAI, PAPAN CATUR DAN SAWAH?” (seperti tertulis dalam judul artikel ini).  Hmmm…… ini pertanyaan yang baru muncul dalam pikiran saya. Dan ini adalah “LifeQuest” atau pertanyaan kehidupan saya. Ini, dimulai saat saya bertemu seseorang dan dia bilang:”Saya hidup mengalir saja pak, saya nikmati semuanya. Saya nggak neko-neko, kemana hidup itu mengalir ke situ saya berada!”.  Hmmmmmmmm…….pada saat si Mbak ini (begitu kita sebutnya saja yah?) selesai mengucapkan kalimat ini, langsung muncul pertanyaan dalam pikiran saya:”Jadi kalau modelnya hidup seperti yang si Mbak ini bilang, berarti apakah kehidupan ini modelnya memang seperti sebuah sungai (dengan airnya yang mengalir)? (apa kata “sebuah” itu cocok untuk sungai?)” Semua orang (kalau memang hidup itu seperti sungai), ibaratnya seperti daun-daun atau ranting-ranting patah, yang mengapung dan mengalir menuju ke hulu begitu saja. Semua mengarah ke ujung yang sama. “Apa seperti itu ya?” Pikir saya, sambil menggoyang-goyangkan kepala. Kemudian blip…blip..blip  muncul pertanyaan-pertanyaan berikut di dalam pikiran saya:
“Kalau kehidupan itu seperti daun yang mengapung dan mengalir di sungai, terus apa itu berarti si daun-daun ini tidak perlu melakukan usaha apapun?”
 “Kenapa harus pusing-pusing melakukan usaha?” Toh diam saja, tetep akan mengalir ke hulu, begini kan logikanya?”
 “Bagaimana kalau sang daun dalam perjalanannya tersangkut di bebatuan, atau di ranting-ranting patah yang juga sedang terapung?” “Bagaimana kiatnya pada saat tersangkut dan bisa jalan dan mengalir lagi?”
“Eh bagaimana kalau yang mengalir itu bukan daun, tetapi ikan, kalau ikan mestinya masih bisa bergerak kalau tersangkut?
“Asyik juga kalau seperti ikan, bisa mengikuti aliran sungai tapi juga bisa mempercepat dengan berenang. Jadi lebih cepat donk sampai hulunya? Jadi hidup itu mirip seperti daun yang mengapung atau seperti ikan ya?
Hmmmmm….bertambah asyik saja saya melakukan exercise otak ini……bertanya dan bertanya dan bertanya. Lebih lanjut mulai saya berpikir lagi : “Asyik sih dengan model sungai in, semuanya lebih pasti (pasti menuju laut, pasti mengalir, dan pasti sampai tujuan).
“….tapi kalau saya hidup seperti daun atau ikan di dalam sungai, hidup jadi betul-betul sangat tergantung pada aliran sungai itu donk?”. Kalau air sungai mengalir cepat, daun dan ikan bisa ikut bergerak lebih cepat menuju hulu, tetapi kalau air tiba-tiba macet (kemarau misalnya), terus bagaimana donk?”
“Ya berhenti total … …” wuaaaaaa….aaaaa..
Jadi kalau misalnya hidup ini punya model seperti sungai,  “Apa donk kiat sukses untuk menjalani kehidupan di dunia sungai ini???” (Sambil menerawang ke atas, karena saya orangnya visual banget), mulailah muncul kata-kata menggelitik……. “di dunia sungai (yang airnya mengalir dan mengalir), maka mungkin…..(dan mungkin Anda punya pendapat lain), kiat suksesnya adalah kemampuan adaptibilitas dan fleksibilitas. Karena tidak banyak yang bisa dilakukan dengan arah kehidupan (pasti ke bawah dan pasti ke hilir), maka semakin kita mudah beradaptasi dan lentur, semakin kita mudah untuk hidup dan semakin mudah untuk mencapai tujuan. Hanya dengan sedikit menggeser sana, dan menggeser sini serta sedikit luwes (tekuk sana dan tekuk sini)…..perjalanan lancaar…..rrrr dan dijamin pasti sampai di tujuan. Kalau kiat sukses ini ditulis dalam dua kata? ”Pintar menghindar”!!
Dan kunci gagalnya ?
“Bersikap kaku-lah” biarkanlah dunia berjalan, tutup telinga, mata dan hati. Dijamin hidup di dunia sungai akan sulit dan sengsara.

Hmmmm “dunia sungai….dunia sungai…dunia sungai..”. ” Ada nggak ya model lain untuk menggambarkan kehidupan ini?”  (nah mulai bertanya-tanya lagi nih). Bukan model sungai, yang hanya mengalir dan mungkin agak berkesan pasif, tapi model lain?  Model yang sedikit ada unsur keaktifan pemain di dalamnya ?( dengan begitu sebenarnya saya hanya ingin memunculkan proses upaya dan usaha yang lebih aktif dalam menjalani kehidupan). Bagaimana kalau…..kehidupan itu mirip dengan papan catur atau tepatnya permainan catur? Ya betul, permainan catur yang terdiri atas papan dan seluruh buah caturnya. Asyik mungkin ya, karena hidup jadi seperti permainan.
“Hmmmmm…mmmm, kalau kehidupan ini seperti permainan catur, apakah itu berarti setiap kita ini (para buah catur yang meloncat ke sana ke mari) sudah didesain dan ditetapkan dari “sononya”? Ada yang sudah dirancang sebagai raja, ada yang sebagai pion, ada yang sebagai benteng dan ada yang sebagai kuda? Dan masing-masing berjalan sesuai dengan fungsinya…misalnya kuda bergerak dalam bentuk huruf L, Menteri lurus ke berbagai arah, benteng jalannya lurus ke depan atau samping dan pion hanya bergerak lurus satu kotak?
Kalau memang model papan catur yang kita pakai, mungkin asyik juga ya? He…he….kedudukan dan posisi sudah jelas, cara jalan sudah jelas dan arah perjalanan sudah jelas. Kalau kebetulan kita dirancang dari awal sebagai benteng, ya berarti untuk kita bisa hidup sukses (berjaya di atas papan catur), kita harus selalu melihat dan bergerak lurus ke depan atau ke samping. Kalau kita bergerak miring, wooooo..oooo pasti disumpahin orang banyak, dan bisa-bisa diusir keluar papan catur. Kalau kita ini pion atau bidak, jalannya satu langah demi satu langkah, tidak boleh langsung lompat 10 langkah ke depan. Kalau kita kuda berarti harus jalan seperti bentuk huruf “L”. Begitu seterusnya.
Di dunia papan catur, kiat untuk sukses pastinya berbeda dibandingkan dengan dunia “sungai”. Jelas kita tidak bisa luwes dan adaptif, karena di dunia “papan catur”, niat untuk berubah (change….change….seperti yang biasanya dipopulerkan oleh banyak motivator), justru malahan tidak masuk akal. Koq kuda tiba-tiba capek jalan seperti L dan memutuskan jalan lurus seperti ratu? Koq pion lelah hanya menggeser satu langkah satu langkah, dan ingin lompat 4 kotak ke depan? Di sini, nampaknya kiat sukses justru dimulai dengan mencari siapa saya, siapakah Anda (benteng-kah, pion-kah, kuda-kah?). Begitu Anda tahu siapa Anda, dan saya tahu siapa saya, maka seterusnya hidup jadi mudah….Anda tinggal berjalan sesuai desain Anda, dan Anda akan aman dan berjaya? Waaahhh asyik banget, beitu kita tahu kita siapa, selanjutnya hidup jadi mudah, tinggal ikut aturan. Tapi ………darimana kita bisa tahu kita itu siapa? Pion, Menteri, Raja atau Benteng? Hmmmm…mmmm saya belum tahu jawabnya yang pasti, mungkin bisa dari pencarian kita sendiri, ataupun mungkin dari Ayah Ibu kita yang secara sengaja memberi tahu siapa kita. Apa ada sih Ayah Ibu yang sempat memberi tahu siapa kita? Ada lho, coba simak kalimat berikut:
“kamu anak hebat nak, kamu selalu bisa melakukan apapun yang kamu ingin lakukan”, atau
“Wah hebat, ntar kalau besar jadi Dokter ya”, atau
“Di telapak tanganmu tertulis huruf M dan itu berarti money,…engkau akan selalu berlimpah dengan uang yang berasal dari sumber-sumber yang baik Nak”
“Agi adalah anak yang ganteng dan suka belajar”, demikian yang sering saya ucapkan kepada anak ke dua saya Agi yang berumur 9 tahun. Tujuan saya sederhana memberikan “template” sehingga lebih mudah bagi Agi untuk menjalani kesehariannya. Apakah Agi benar-benar ganteng? Ya jelaslah, he…he… bagi saya (bapaknya) semua anak-anak saya adalah orang-orang paling ganteng se dunia he…he…he…Apakah Agi memang suka belajar? Yaaaa ……..dengan setiap saat saya selipkan sugesti bahwa dia suka belajar dan belajar itu mudah, maka Agi menjadi seorang pembelajar yang hebat. Suka bertanya dan mempelajari hal-hal baru. Bukan hanya Agi, tapi juga Nesna anak ke tiga saya (ingat Nesnalah yang bertanya “kenapa tidak ada hewan bertulang depan (kalau sekarang ada hewan bertulang belakang?”), dan juga Mega anak pertama saya (yang sekarang menjadi presiden-nya Jogja Debating Club alias JDC)
Pertanyaannya kemudian adalah “Apakah Ayah dan Ibu Anda dahulu sempat memberitahu siapa Anda?” (sehingga dengan demikian Anda menjadi lebih mudah bergerak and making a move?). Saya tidak tahu pasti jawaban Anda, tapi yang sering saya temui sebagian orang tua memang memberi tahu “siapa anak mereka”, tetapi yang diberitahukan adalah “Kamu itu memang dasar anak bodoh, susah konsentrasi”, “Yah kamu ini kan keturunan orang miskin, nggak usah macem-macemlah, udah bisa makan saja syukur”. Kalau Anda kebetulan sebagai orang tua, sudah sempat-kah Anda memberitahu putera-puteri Anda tentang siapakah mereka? Kalau pemberitahuan itu bagus, ada kemungkinan besar putera-puteri Anda itu akan hidup nyaman dan happy nantinya. Tetapi, kalau selagi mereka kecil kite beri mereka dengan “pemberitahuan” yang melemahkan, yaaahhhh…lemah pula hidup mereka.

Kalau “tahu siapa kita”merupakan kunci sukses di dunia papan catur, jadi apa donk kunci gagalnya? Hmmm…nampaknya kunci gagalnya adalah “jangan cari siapa dirimu atau bingunglah tentang dirimu”…dengan begitu kita akan bingung dan tidak tahu mesti melakukan apa. Sekilas aku seperti pion, mmmm tapi kayaknya aku raja, tapI mungkin aku benteng….wah bingung aku !
Kalau ada model kehidupan seperti sungai dengan segala isinya yang ikut mengalir, kemudian ada juga model papan catur yang aturan mainnya sudah jelas, adakah model lainnya yang bisa memunculkan peran manusia yang lebih aktif, lebih kelihatan “keringatnya”? Hmmmmmmmm……..mmmm melompat-lompat lagi nih sel-sel neuron saya……..mulai bertanya-tanya lagi nih….

Yesssssss “Ada”, demikian sekelebat jawaban yang muncul di dalam pikiran saya. Model “Sawah” ! he…he…ini lebih seru lagi. Di “dunia sawah”, tempat berkiprah dan bermain sudah ada dan siap dipakai, dan siapapun bisa sukses di sawah ini. Di “sawah” siapapun bisa menjadi apapun dan bisa melakukan apapun dan berjaya atas segala upaya apapun yang telah dilakukannya. Anda boleh jumpalitan, melompat-lompat, lari, menyanyi, tertawa terbahak-bahak, bertani, bekerja pada orang lain dan bahkan diam saja. Di “sawah” bisa ditemukan petani sukses, dan petani miskin, petani sehat dan sakit-sakitan, bibit tercecer, gulma, cacing tanah, kodok, lintah, buruh tani, tengkulak, penjual es, dan peminta-minta. “Sawah” bisa betul-betul menjadi sebuah medan laga, panggung pertunjukan, killing field, ataupun sekedar tempat bermain ataupun jalan-jalan. Apapun bisa terjadi di sini. Anda bisa menjadi apapun dan melakukan apapun, dan akhirnya mendapatkan hasil apapun selaras dengan upaya Anda.  Menarik sekali model ini ya…sebuah model yang nampak “liar” tapi mungkin menantang bagi sebagian kita. Kenapa menantang?

Welll….di sawah nampaknya semua sudah ada, semua resources sudah tersedia, semua kesempatan terbuka, tinggal kita bisa dan mau menggunakan atau tidak. Nah yang menarik, di dunia sawah yang penuh peluang ini lucunya (at least menurut saya), kunci suksesnya ternyata sederhana! Bener sangat sederhana, “Just do whatever you need to do, for whatever you want to be”. Lho koq jadi simpel??? Lha iya lah…di dunia yang semua potensi ada, semua peluang ada, semua resources tersedia dan (dan juga semua hambatan ada…he…he…) semua jadi tergantung kita? Kenapa?

Karena di dunia sawah, kita semua punya peluang yang sama untuk sukses! …Koq begitu??? Ya iyalah..h…h…..karena semua sudah disediakan dan tinggal tergantung bagaimana kita memakai semua peluan, potensi, dan hambatan itu. Kalau misalnya Anda memutuskan untuk diam saja, dan bertahanlah diam selama 1 minggu, maka dijamin dihari pertama setelah waktu satu minggu itu terlewat, Anda pasti bisa berujar: “Akhirnya aku sukses sebagai pendiam!”. Kalau Anda sekarang ini mengeluh dan mengeluh dan mengeluh, dan teruskan mengeluh selama sebulan penuh, lihat saja di akhir masa yang satu bulan itu, Anda pasti sukses dan bangga sebagai pengeluh ulung (dan semua orang akan memperlakukan Anda sebagai pengeluh, dan menjauhi Anda). Anda berhasil!

 Di sini, di dunia sawah kunci sukses “just do whatever you need to do, for whatever you want to be” selalu berhasil mengantarkan setiap kita pada tujuan kita.  Kalau kita ingin sukses sebagai pembicara, ya teruslah berbicara. Kalau kita ingin menjadi petani sukses ya…teruslah bertani dengan tekun. Kalau Anda ingin jadi guru yang sukses, ya teruslah mengajar dan belajar.  Kalau “aku sekarang pegawai rendahan dan ingin jadi pengusaha telor asin yang memproduksi 5000 telor asin per hari, bagaimana donk?” Jawabnya sederhana “lakukan apapun seperti yang dilakukan oleh seorang pengusaha telor asin yang menghasilkan 5000 telor asin per hari” Kalau saya tetap melakukan hal-hal seperti yang dilakukan pegawai, dan berharap menjadi seorang pengusaha telor asin, ya jelas agak aneh…he…he…mau jadi pengusaha telor asin koq setiap hari masih bergulat dengan catatan uang keluar masuk dari majikan tempat kerja saat ini…kapan pegang telornya???” Jadi apa donk kunci gagal di dunia sawah ? “Janganlah punya keputusan!!”. Dijamin tanpa punya keputusan hidup di dunia sawah akan merana dan penuh keteromabang-ambingan.

Okey, jadi sekarang minimal ada tiga model kehidupan, sungai, papan catur dan sawah, dan masing-masing mempunyai kunci sukses masing-masing. Masih adakah model kehidupan yang lain? Saya yakin ada deh….dan kalau Anda mempunyai model yang mau dibagi dengan saya…silahkan tuliskan

Sementara itu “model kehidupan yang mana yang sekarang Anda jalani?” (tetaplah bertanya !!!!)

   
Favoured
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 

Display 2 of 2 comments

.

By: sibit witarsan (Guest ) on 16-08-2009 01:33

good article

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

Dra

By: Idiani darmawati (Guest ) on 16-07-2009 22:54

Ada dik... yaitu model permainan sepak bola... 
penjelasannya .. dik bayu aja ya..yg menguraikan ... ditanggung pasti lebih siiiippp. OK

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

Display 2 of 2 comments



Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
 
   
   



mXcomment 1.0.9 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
PDF Print E-mail
Last Updated on Wednesday, 15 July 2009 12:06