| on 20-06-2009 13:36
|
Views : 943 |
Sering kita bingung kenapa banyak cita-cita kita menguap entah kemana? Dulu waktu habis baca buku pegembangan diri, habis ikut seminar yang penuh dengan yess….yess…yess dan bahkan pakai lompat-lompat, atau bahkan berjalan di atas bara api, kita rasanya penuh semangat (bahkan super semangat) untuk mengukirkan cita-cita kita (yang waktu itu lebih keren disebut dengan “our dream”). I want to have my dream house, my dream car, my dream pacar dsb…dsb. Habis itu (sesuai dengan petunjuk trainernya) kita mulai mencari gambar-gambar yang kita harapkan bisa menjadi kenyataan (‘one day”), dan mulai menempelkannya di mana-mana (cermin di kamar, kamar mandi, dapur, screen saver di laptop, dan bahkan langit-langit di kamar). Dan kenyataannya? Seminggu dua minggu mungkin Anda masih bersemangat dan segala ketidaknyamanan yang ada disikat habis dengan selalu berbisik think positive…think positive…think positive….terus aja begitu, dan hasilnya….????Ada sih yang berhasil mencapai “dream”nya, berhasil mencapai yess I made it, dan berhasil mengalahkan semua rintangan apapun bentuknya. Tapi sebagian besar dari kita umumnya terseok-seok dan “ngengleng” (bahasa Jawa yang artinya bingung keterlaluan). Koq bisa saya tahu?
Well saya pernah mengalami masa itu, masa yess….yess…yess. Masa menuliskan “dream” tentang what I want?. Masa menempelkan berbagai gambar dan foto yang (waktu itu) saya anggap resep cespleng untuk mewujudkan impian alias cita-cita saya. Jujur saja waktu itu saya jadi nampak sebagai orang aneh, bahkan isteri saya sendiri jadi bingung, si Bapak ini tiba-tiba seperti orang kerasukan?? Setiap kali mengucapkan “aku bisa aku pasti bisa”, dan ternyata tidak bisa juga….he…he…Sering kami cek-cok karena bagi isteri saya saya ini ngaco sekali membuat cita-cita (yang waktu itu) sangat ruarrrr biasa!. Bayangkan saja pada saat gaji saya sebagai pegawai negeri hanya mendekati Rp.1 juta eh saya punya impian untuk punya Mercy A 140. Isteri saya sempat bingung dengan banyaknya gambar Mercy A 140 di rumah saya. Tapi saya jalan terus…think big…think big…think big…. Itu yang di tularkan mentor saya waktu itu. Well….selain dianggap aneh oleh isteri saya ternyata Mercy A 140 nya juga nggak muncul-muncul. He…he….he… sekarang saya bisa menertawakan diri saya sendiri, tapi kalau waktu itu….ya benar-benar puyeng.
Kalau sekarang dipikir-pikir lagi ternyata ada beberapa hal yang missing pada saat saya mengukirkan dan memulai upaya mencapai dream saya itu. Bagian yang missing itu adalah KEMAUAN. Ya…benar waktu itu ternyata saya menerjemahkan isi training yang “write what do you want” untuk mengukirkan “impian saya”, menjadi “Tuliskan apa yang saya inginkan?”. Saya menerjemahkan kata “WANT” dengan “INGIN”, dan tidak dengan kata “MAU”. Apa bedanya sih? Kata “want” memang bisa saja diterjemahkan dengan “ingin” tapi bisa juga dengan “mau”, tspi pengaruhnya ke pikiran kita nih (yang orang Melayu tulen), sangat besar sekali dan bahkan sangat besarrrrrrrrrrrr.
Dengan menuliskan “Saya ingin……..” secara tersamar Anda masih memberikan peluang pihak, orang atau faktor lain untuk bisa mempengaruhi hasil akhir yang Anda dapat. Jelasnya kata “ingin” masih menyisakan tempat bagi “kalau-kalau nggak berhasil, ya pasti karena ada pihak lain yang mempengaruhinya, dan bukan karena Aku, kan Aku hanya ingin?!”. Kalau mau jujur dan dikalkulasi dengan menggunakan “pengukur niat”, kata “ingin” ini levelnya rendah banget. Masih tersisa banyak banget keraguan, banyak ketidak yakinan, dan sama sekali tidak menunjukkan KEMAUAN untuk mencapai. Tidak ada greget, tidak ada tekad. Pantesan hasilnya sering tidak seperti yang saya harapkan?
Coba saja Anda terjemahkan kata “Want” dengan “Mau”? “I want my dream home?’ “Saya mau rumah idaman saya yang luasnya minimal 750 m2 atau ymauang lebih baik”.
Apa rasanya di dada?. Yakin, niat yang mantap, “I Control My Life”, semangat dan mungkin juga greget. Benar? Ke semua perasaan itu adalah pangkal dari kemauan dan juga fondasi yang sangat kokoh dan bagus untuk mencapai cita-cita. Dengan menuliskan misalnya:
* “Aku mau mempunyai hubungan yang happy dengan isteriku”, * “Aku mau menjadi seorang trainer yang selalu membagi ilmu yang bermanfaat”, * “Aku mau punya Toyota Fortuner warna hitam atau yang lebih baik, untuk membawaku ke lokasi-lokasi terindah di Jogja”, * “Aku mau mempunyai sekolah yang membuat anak-anak suka belajar ”
Anda bisa rasakan adanya muatan niat yang sangat kuat, pada kalimat-kalimat di atas, benar kan?
ToyotaPada saat Toyota mengumandangkan “moving forward” dan Super Indo menuliskan “Lebih Segar, Lebih Hemat, Lebih Dekat”, kita bisa saja mengartikan bermacam-macam, tapi yang jelas, saya bisa merasakannya sebuah “KEMAUAN” yang kuat, sebuah komitmen yang dalam dan, sebuah tekad tak tergoyahkan. Ini jelas bukan hanya “keinginan”, ini tekad yang bulat dan fondasi yang kuat untuk maju ke depanSuper (“moving forward” seperti kata iklan itu). Dan tentu saja, siapapun akan setuju, tekadlah yang membuat jalan menuju cita-cita menjadi lebih mulus, lebih lebar dan lebih mudah, dan jelas membuat kita maju terus pantang mundur. Jadi kalau Anda punya cita-cita, dan sedang dalam proses untuk menuliskannya, silahkan tuliskan dengan :
“Aku mau……..(tuliskan kemauan Anda) dan atas ijin Allah
kemauanku itu atau yang lebih baik lagi, tercapai pada saat aku siap”
Di lain pihak, saya bisa mengerti kalau sebagian dari Anda merasa “risih”, “jijik”, ataupun berpikir “ini arogan” pada saat mendengar kata “mau” ataupun kalimat yang mengandung kata “mau”. Kalimat seperti “Aku mau …….. ? , “Aku mau …………..”, “Aku mau punya BMW seri terbaru”, bisa membuat sebagian dari kita risih. Itu sih oke saja. Itu sih sah-sah saja, hanya saja kalau perasaan itu muncul (dan perasaan-perasaan lain yang cenderung negatif muncul misalnya “nggak layak aku bilang mau”, “itu adalah pikiran orang sombong:, dsb), maka sebenarnya itulah yang harus segera kita cermati. Kenapa…? Karena perasaan tersebut sebenarnya muncul dari “perintah masa lalu” yang tertanam di dalam pikiran kita. Perintah masa lalu ini sering berbentuk keyakinan yang misalnya berupa “orang yang menggunakan kata mau itu pasti arogan, mau menang sendiri, telalu jumawa, kaku “, “orang yang sering pakai kata mau itu nggak peduli pada perasaan orang lain dsb”..
Kalau kebetulan ada keyakinan-keyakinan seperti tersebut di atas, dan Anda ingin melakukan pemaknaan ulang dari kata “mau” tersebut, maka sebaiknya Anda langsung melakukan Pertanyaan Diri sebagai berikut :
“Apakah aku yakin 100% dan punya cukup bukti bahwa
setiap orang yang berbicara dengan kalimat Aku mau………………itu selalu arogan?
Mau menang sendiri?, jumawa?”
Pertanyaan Diri tersebut akan cukup untuk menunjukkan kepada Anda bahwa asumsi-asumsi (anggapan), dan keyakinan kita sering tidak didukung oleh data dan informasi yang kuat dan akurat. Dengan melakukan minimal 5 x Pertanyaan Diri tentang kata “mau”, maka biasanya Anda akan merasa lebih enteng, dan lega saat berhadapan, mendengarkan, membaca ataupun bahkan menggunakan kata “mau” tersebut. Dan pada saat ini tercapai mulailah menuliskan cita-cita Anda, dan tulisakan dengan :”Aku mau ………”.
MauMau………..??
|
|
|
Dra
By: Idiani darmawati (Guest ) on 16-07-2009 23:48
Aku mau..mau... mau hidup yang lebih baik...
» Report this comment to administrator
» Reply to this comment...