Masih ingat pelajaran peribahasa sewaktu sekolah di SD yang berbunyi “Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian? “. Masih? Ok …..kemudian apa kelanjutan dari kalimat tersebut di atas?. Sebagian besar dari Anda, saya yakin akan menjawab “Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian”. Hebat ! ingatan Anda masih sangat bagus, tetapi apa Anda juga masih ingat apa arti dari peribahasa tersebut, seperti yang diberikan Bapak atau Ibu Guru? Hmmmmm…pasti jawabannya akan bervariasi, tapi secara umum pasti “untuk mencapai sesuatu yang berharga, kita harus berusaha keras dan sering harus berdarah-darah terlebih dahulu”.
Saya tidak tahu apa yang membekas pada diri Anda dari peribahasa di atas, tetapi yang jelas peribahasa itu sangat “membentuk” hidup saya sebelumnya (artinya bukan yang beberapa tahun terakhir ini). Peribahasa itu menimbulkan sebuah “guidelines” yang tertulis dalam tinta emas di dalam otak saya. Pada masa-masa “jahiliyah” dulu (ini adalah nama yang saya berikan untuk jaman di mana hidup saya masih ngaco nggak karu-karuan dulu), saya sangat percaya dengan konsep “berdarah-darah, sebelum sesuatu yang berharga didapat”. Waktu itu saya bekerja “membanting tulang” (minimal sekuat yang bisa saya lakukan sebagai seorang dosen) dan berhemat habis-habisan demi melewati hari demi hari dan “masa depan” yang gemilang. Pada saat itu semua yang saya lakukan adalah “bulan ini lewat” dan “demi masa depan”. Pada saat itu adalah sah (menurut saya) kalau kami sekeluarga harus dalam keadaan sulit. Pada saat itu adalah sah, kalau saya sewot pada Isteri saya yang (menurut saya) “tidak bisa berhemat”. Pada saat itu adalah sah, kalau saya harus bekerja sampai habis-habisan, toh demi masa depan juga. Pada saat itu kesulitan adalah sah, karena itu adalah jalan menuju masa depan yang gemilang. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Pada saat itu adalah sah, kalau saya rajin bekerja dan kalau perlu lebih rajin dari yang lain supaya “boss” suka dan pekerjaan saya dinilai baik (dan artinya saya aman karena saya akan tetap punya pekerjaan, syukur-syukur naik pangkat …lagi-lagi “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, dan punya pensiun layak). Apa pensiun? Yaaaah…kata inilah yang dahulu menjadi motivasi terbesar saya dalam bekerja . Waktu itu saya benar-benar bekerja supaya bisa pensiun (nantinya….harapannya….one day….30 tahun dari waktu itu) dan tetap hidup layak.
Layak ??? Itulah kemudian yang pertanyaannya. Kenapa ? karena pada saat itupun saya tidak tahu layak itu seperti apa? Dengan gaji yang saya dapat waktu itu, dan selalu berpikir ke arah masa depan, kata “layak” adalah sesuatu yang tidak pernah mempunyai definisi yang jelas. Berpikir tentang “layak”pun saya tidak berani. Akibatnya, bukannya hidup kami sekeluarga semakin membaik, tetapi malahan semakin hancur-hancuran. Karir juga nggak hebat-hebat amat, keuangan keluarga morat-marit dan parahnya relationship saya dengan anak dan isteri menjadi “breaking to pieces”, alias hancur berkeping-keping. Dalam kebingunan kehidupan, untungnya Tuhan memberikan sebuah petunjuk yang sangat luar biasa dan mendorong kami untuk “hijrah”. Hijrah secara fisik, saya, isteri dan anak-anak saya pindah dari kota yang sudah lebih dari 10 tahun kami tinggali, dan hijrah pemikiran, saya bertemu dengan mentor-mentor kehidupan yang luar biasa dan memperlajari ilmu-lmu baru tentang kehidupan.
Bagaimana nasibnya dengan “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”? Berkat mentor-mentor saya itu, dan juga berpuluh-puluh buku yang saya baca, plus CD dan DVD yang saya beli lewat amazon.com, konsep yang ditanamkan guru SD saya itu bisa saya maknai dengan lebih baik. “Waktu itu guru SD saya hanya menjalankan tugas sebaik yang dia bisa, dan banyak jalan mudah menuju ke tepian atau tepatnya kebahagiaan “.
A Blend of Excitement in Every Sip”, kata kopi Excelso. Kenikmatan dan keasyikan di setiap “sruputan” nya (apa ya bahasa Indonesianya “sip”? kalau bahasa Jawa…ya “sruput” itu he…he..he).
Kesalahan fatal yang saya lakukan di jaman “jahiliyah” saya adalah, tidak menikmati dan mensyukuri setiap moment dan setiap detik dari hidup saya. Pemikiran bahwa “masa sekarang adalah masa berakit-rakit ke hulu, alias masa bersakit-sakit, selalu menjadi pengesahan bahwa hidup sulit , penuh stress, penuh kemarahan, penuh duka, penuh onak, itu okey saja dan bahkan harus”. Waktu itu saya dan kami sekeluarga melewatkan setiap detik kehidupan kami, tanpa pernah bisa menikmati dan mensyukurinya. Pantesan waktu itu bagi saya dan isteri saya, rasanya hidup hanyalah sebuah perjalanan yang ujungnya nampaknya jauuuuuuuuhhh sekali.
Dalam kondisi selalu berpikir ke depan dan dibayangi “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” kadang sering memang menjadi sulit untuk bisa menikmati every moment dari kehidupan kita. Padahal, itulah sebenarnya “langkah sederhana for happiness”. Dengan menikmati hidup pada setiap “moment” nya, hati kita akan terus dipenuhi rasa terima kasih, syukur dan cinta. Setiap moment itu bukan harus untuk dilewati (karena kita tidak sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat yang jauh), tapi setiap moment adalah keindahan dan karunia baru yang dihadiahkan khusus oleh Tuhan kepada kita dan hanya untuk kita. Every moment counts, itu istilah cas cis cusnya….
Kalau Exelso menyebutkan “….excitement of every sip”, coba bayangkan apa artinya dan rasanya di dalam hati kita! Asyik bukan? Sip demi sip, seruput demi seruput, dan emmmm ……terasa sekali enak dan nikmatnya kopi kan? Bedakan kalau Anda asal saja minum seluruh isi cangkir sambil berlari karena ketinggalan jemputan kantor. Untuk Anda yang bukan penikmat kopi, Anda boleh bayangkan magic moment ini dengan menikmati detik demi detik, pandangan penuh harap putera Anda saat Play Stationnya macet. Bisa juga Anda nikmati naik turunnya dada dan perut puteri Anda, saat sedang tertidur di sofa, naik…turun…naik…turun…dan saat perutnya tidak bergerak…Anda sedikit cemas, dan kemudian bergerak lagi…dan Anda mengucap Alhamdulillah. “….excitement of every sip”, bisa juga Anda nikmati dalam bentuknya sejuknya usapan udara pagi pada wajah Anda ketika Anda membuka jendela kamar Anda pagi ini, detik demi detik, dan rasakan hisapan udara demi hisapan yang masuk ke paru-paru Anda, moment demi moment. Setelah itu, nikmati saat Anda menghembuskannya haaaaaaaahhhhh….asyik sekali bukan? That is happiness, itu adalah moment kebahagiaan yang sebenarnya ada setiap saat, dan ada untuk Anda, tapi kadang sering terlewati.
“Sekarang tanggal 26 dan besok adalah hari terakhir saya harus melunasi tagihan kartu kredit saya, padahal uang mepet, belum lagi anak saya sakit panas sudah 2 hari, plus kerjaan di kantor masih numpuk, plus isteri bilang tagihan telpon bulan ini belum dibayar, bagaimana saya bisa happy?”
Benar, sering sangat sulit menjadi bahagia, pada saat semuanya seolah-oleh mengejar kita. Pada saat kondisi seperti ini, bukannya kemudahan dan penyelesaian, tapi seringnya justru berbagai kesulitan baru muncul, menumpuk dan bertumpuk pada kesulitan sebelumnya yang belum juga teratasi. Berat memang rasanya, saya bisa mengerti itu, saya pernah dalam situasi seperti itu dan tidak hanya sekali.
Teman, saya tidak tahu dengan Anda, tapi lebih dari 20 tahun saya sekolah (dari TK sampai Doktor), seingat saya tidak ada satu pelajaranpun tentang “kebahagiaan, dan cara mencapainya” yang pernah saya dapat. Agak aneh memang, suatu kondisi yang didambakan oleh setiap orang, tetapi sekolah kita (yang kita agung-agungkan sebagai jalan menuju keberhasilan hidup) tidak sedikitpun membahas tentang “kebahagiaan” ini. Tidak heran kalau kita akhirnya lebih sering men”cantol” kan kebahagiaan dengan pemenuhan diri dari segala hal yang kita inginkan (habis memang belum dapat ilmunya sih?!). Kita akan bahagia pada saat anak naik kelas dengan rata-rata 9, kita akan bahagia pada saat berhasil dapat komisi besar, kita akan bahagia kalau punya suami ganteng dan setia, kita akan bahagia pada saat berhasil mencapai level Diamond dalam sebuah multi level bisnis, dan kita akan merasa bahagia pada saat trading valas kita menghasilkan profit berlipat-lipat. Di sini Anda bisa lihat bahwa semua syarat dan kriteria kebahagiaan umumnya tidak berasal dan asli dari diri kita, tetapi lebih merupakan adopsi nilai dari luar diri kita (dan anehnya sering kita tidak mempunyai kontrol 100% terhadap berbagai aspeknya). Tidak heran apabila kita lebih sering kecewa dan menjadi unhappy, karena yang kita inginkan ternyata tidak kita dapatkan. Kenapa? karena nilai yang kita pakai bukan nilai yang kontrolnya ada pada diri kita. Anak naik kelas dengan nilai rata-rata 9….punyakah Anda kontrol 100%? Tidak. Ada suasana kelas yang berisik, ada pembuat soal yang tidak peduli dengan pemikiran anak kelas 4 SD dan sebagainya.
Dapat komisi Rp. 25 juta karena berhasil jual property, punyakah Anda kontrol 100% tentang itu?? Tidak. Ada buyer yang menawar, ada perusahaan agen yang membuat aturan komisi, ada inflasi, ada bank yang memotong fee bulanan tabungan, ada…macam-macamlah. Bagaimana dengan dapat suami ganteng, punyakah Anda 100% kontrol? Tidak, …..mungkin dia ganteng tapi tangannya ringan banget untuk bermain silat, dan saking gantengnya dia, cewek sekantor berebut menemani suami Anda untuk rapat? Jelas di sini kebahagiaan Anda telalu banyak dikontrol oleh pihak lain. Makanya sulit untuk didapat dan dinikmati.
Kawan, sebenarnya ada langkah sederhana untuk mencapai kebahagiaan itu. Anda mau mencoba? Pertama, pandang bahwa bahagia bukanlah sebagai sebuah “hadiah”, ataupun “reward”, tetapi pandanglah sebagi sebuah skill atau keahlian. Iya betul bahagia itu perlu dilatih. Latihan yang terus menerus akan menjadikan Anda sebagai ahli kebahagiaan alias seorang “master of happiness”.
Kebahagiaan adalah seperti sebuah keahlian naik sepeda. Harus dipelajari langkah-langkahnya, dan dipelajari dengan penuh suka cita pula. Anda bisa bayangkan saat Anda belajar naik sepeda dulu? Ada suka cita, ada harapan, ada ketawa, ada luka kecil, dan akhirnya voilla…tanpa disadari Anda sudah bersepeda keliling perumahan. Coba misalnya saat belajar naik sepeda Anda dipenuhi ketakutan, tekanan, dan kebingungan, mungkin Anda berhasil naik sepeda, tapi Anda jelas melewatkan asyiknya kehidupan pada saat belajar itu. Jadi mulai sekarang belajarlah untuk bahagia, kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun.
Nikmati dan syukuri setiap moment dalam kehidupan Anda, ini adalah langkah emas untuk belajar mencapai keahlian happiness. Apapun yang muncul dalam setiap detik kehidupan Anda, pasti sudah terencana dan mempunyai tujuan. Tidak mungkin ada kejadian dalam hidup kita yang terjadi secara acak. Sakit punggung yang menyengat saat ini, ataupun dipecatnya Anda dari pekerjaan Anda 2 hari yang lalu, pasti punya tujuan. Anda punya pilihan untuk melihat “sakit punggung yag menyekat” sebagai sakit dan Anda sangat sial sekali …..atau itu merupakan “sapaan Tuhan” yang berkata “Bayu…sudah saatnya kamu berolahraga dan memperhatikan badanmu…duduk terus dan menulis seperti itu tidak sehat!”. Pada saat saya menerima “urusan punggung menyengat” itu sebagai “sapaan Tuhan”, kira-kira ucapan apa yang akan ke luar dari bibir saya ??? Alhamdulillah Tuhan, Engkau memperhatikan aku…dan ini adalah kebahagiaan. Mau mencoba “simple steps for happiness saya ?”
“Every sip counts” itu kata Exelso.
Mas Bayu…tulisan anda sangat mengalir dan bergizi. Saya berkesimpulan bahwa seperti perubahan, kebahagiaan juga merupakan pilihan bukan akibat dari pilihan atau dapat diartikan bahwa bahagia itu aktif bukan pasif dengan cara menunggu. Jadi marilah kita putuskan bahagia saat ini juga tanpa karena bla…bla…bla….tapi dengan prinsip meskipun, ya meskipun belum mendapatkan hasil optimal, meskipun belum memiliki yg kita inginkan dan meskipun…meskipun yang lain, kita harus memutuskan untuk bahagia ( bahagia itu mudah dan membahagiakan…wasalam)